Rabu, 04 November 2009

Makalah METAFISIKA

METAFISIKA

A. Pendahuluan

Cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia adalah Metafisika Dimana di dalamnya menjelaskan studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : Apakah sumber dari suatu realitas ? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?

Cabang utama metafisika adalah mitologi, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelaspemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemingkinan.

Penggunaan istilah “metafisika” telah berkembang untuk merujuk pada “hal-hal yang diluar dunia fisik”. “ Beberapa tafsiran metafisika, diantaranya menurut M.J. Langeveld (tt; 132) dengan mengutif dari apa yang dikatakan oleh Nicolai Hartman mengartikan bahwa metafisika adalah tempat khusus yang diperuntukan bagi objek-objek transenden,daerah spekulatif bagi tanggapan-tanggapan tentang Tuhan, kebebasan dan jiwa, juga sebagai pangkalan bagi system-sistem spekulatif, teori-teori dan tanggapan dunia terhadap sesuatu yang eksistensinya di luar dimensi yang fisik - empirik.

Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme. Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut paham naturalisme. Paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme.paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui. Orang orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu. Dari paham naturalism ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Salah satu yang menggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460 – 370 SM). Adapun bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup. Timbul dua tafsiran yang masih saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-fisika semata berbeda halnya dengan telah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada dua tafsiran tang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni faham monoistik dan dualistic. Sudah merupakan aksioma bahwa proses berfikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Perndapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistic. Dalam metafisika, penafsiran dualistic membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara subtsansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh fikiran adalah bersifat mental. Maka yang bersifat nyata adalah fikiran, sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.

Metafisika dalam First Order Criteriology

· Honderich dalam Oxford Companion to Philosophy (1998 : 255) membagi wilayah filsafat ke dalam tiga tingkatan.

· First Order Criteriology meliputi : metafisika, epistemology, aksiologi, dan logika.

· Second Order Criteriology meliputi : etika, filsafat ilmu, filsafat bahasa, failsafat pikiran.

· Third Order Criteriology meliputi : filasafat hikum, filsafat pendidikan, filsafat sejarah, dll.

B. Pengertian Metafisika

Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas dua kata yaitu meta dan pysika. Meta artinya sesudah atau dibalik sesuatu dan pyisika artinya nyata, kongkrit yang dapat diukur oleh jangkauan panca indera. Eksistentsinya dibalik sesudah fisik ( meta fisik ) perlu dikaji.. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles, dan menemukan suatu bidang diluar bidang fisika atau disiplin ilmu lain.

Ilmu untuk mengkaji tentang sesuatu dibalik yang fisik atausesuatu sesudah yang fisik disebut ontology.

Metafisika secara tradisional didefiniskan sebagai pengtahuan tentang pengada (Being). (Runnes, 1979 : 196).

Definisi Metafisika

Metafisika; upaya untuk menjawab problem tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental daripada ilmu (White, 1987 : 1).

Metafisika; upaya untuk merumuskan fakta yang paling umum dan luas tentang dunia termasuk penyebutan kategori yang paling dasar dan hubungan diantara kategori tersebut (Alston : 1964 : 4).

Klasifikasi Metafisika (C. Wolff)

Metaphysica Generalis (Ontologi); ilmu tentang yang ada atau pengada.

Metapysica Specialis terdiri atas :

1. Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga.

2. Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta.

3. Theologi; kajian tentang Tuhan secara rasional.

Antropologi Filasafati

OTONOM

Konsep Mono-Pluralisme Notonagoro

Manusians

SOSIAL

MAKHLUK TUHAN

RAGA

JIWA

INDIVIDU

Hakikat Kodrat Manusia

Susunan Kodrat

Sifat Kodrat

Kedudukan Kodrat

Kosmologi Filsafati

Filasafat alam berusaha mencari asal alam semesta Thales berpendapat sebagai arche.

Filsafat alam menyelidiki gerak di alam semesta yang merupakan penyebab adanya perubahan (change).

Dalil Pembuktian Tuhan

Ontologis (anselmus) berpendapat bahwa segala sesuatu di dunia tidakada yang sempurna melainkan hanya memperlihatkan tingkatan-tingkatannya (gradasi). Oki, tentu ada satu yang paling sempurna untuk mengatasi semua ketidak sempurnaan itu yakni the perfect being

Menurut Kosmologis Aristoteles

Bahwa alam semesta ditentukan oleh gerak (Motion). Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan yaitu change dialam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik ultimate yaitu sumber penyeban dari semua gerak.


Dalil Teleologis (William Paley)

Gerak Bertujuan (Teleos)

Bebda-benda di ruang alam semesta itu memiliki gerak yang bertujuan (Teleos), sehingga alam semesta ini merupakan karya seni terbesar yang membuktikan adanya A Greater Intelligent Designer

A Greater Intellegent Designer

Alam sebagai seni terbesar

Benda-benda ruang alam

Dalil Etis menurut I.Kant

Pada setiap diri manusia terdapat dua kecenderungan yang bersifat niscaya yaitu keinginan untuk hidup bahagia dan berbuat baik. Kedua cenderung akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia apabila dijamin oleh 3 Postulat, yaitu kebebasan kehendak (free will) keabadian jiwa (Immortality), dan tuhan (god) sebagai penjamin hukum moral (Law giver).


David Hume :

· Metafisika itu cara berfikir yang menyesatkan (sophistry) dan khayalan (Illusion). Sebaiknya karya metafisika itu dimusnahkan,karena tidak mengandung isi apa-apa.

· Metafisika bukanlah sesuatu yang dapat dipersepsi oleh indera manusia, sehingga merupakan sesuatu yang senseless.

Alfred Jules Ayer

· Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, OKI metafisika harus dieliminasi dari dunia ilmiah.

· Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu (Pseudo-Problems), artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.

Ludwig Wittgenstain

· Metafisika itu bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan (Innexpressible) ke dalam bahasa yang bersifat logis.

· Ada tiga persoalan metafisika, yaitu : (1) Subject does not belong to the world; reather it is a limit of the world. (2) That is not an event in life, we do not live to experience that. (3) God does not reveal him self in the world.

· Kesimpulan : “ sesuatu yang tak dapat diungkapkan secara logis sebaiknya di diamkan saja”.(What we cannot speak about we must fast over in silence!).

Filsuf Pembela Metafisika

Plotinos :

Semua pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe (jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah, yaitu meion.

Karl Jaspers

· Metafisika merupakan upaya memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi.

· Manusia adalah Chiffer paling unggul, karena banyak dimensi kenyataan bertemu dalam diri manusia.

· Manusia merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan; alam, sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri manusia.

· Metafisika : berarti membaca Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi.

· Chiffer adalah jejak, cermin, gema atau bayangan transendensi.

Manfaat Metafisika bagi Pengembangan Ilmu

1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigm ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis. (Kuhn)

2. Metafisiuka mengajarkan cara berfikir yang serius, terutama dalam menjawab promlem yang bersifat enigmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.(Kennick)

3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.(Kuhn)

4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream seperti : Monisme, Dualisme, Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu (Kennick)

5. Metafisika menuntut orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.(Van Peursen)

6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling kuat (Cogito ergo sum)

Skeptis-Metodis Rene Descartes

7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai (not value-free). (Bakker)

8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan.(Bakker)

Hubungan Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika

1. Hubungan metafisika dengan epistemology terletak pada kebenaran (truth) sebagai titik omega bagi pencapaian pengetahuan

reality

Kebenaran

knowledge

Metafisika Epistemologi

2. Hubungan metafisika dengan Aksiologi terletak pada nilai (axios, value) sebagai kualitas yang inheren pada suatu objek. Objeknya mungkin dapat diindera, namun kualitasnya itu bersifat metafisik.

NILAI


3. Hunungan metafisika dengan logika bersifat simbiosis mutualistik. Di satu pihak metafisika memerlukan logika untuk membangun argumentasi yang meyakinkan, di pihak lain symbol dan prinsip-prinsip logika itu sendiri merupakan wajah metafisika, karena sifatnya yang abstrak

Logika

Metafisika

Simbol-simbol

Argumentasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadiwijono. Harun, Sejarah filsafat Barat, Jogjakarta,

Kanisius 1995

2. Sumarna. Cecep, Filsafat Ilmu, Bandung

Mulia Press 2008

3. Suriasumantri. Jujun, Filsafat Ilmu sebuah pengantar popular, Jakarta,

Sinar Harapan, 1982

4. Tafsir. Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung

Rosda Karya, 2006

5. Internet, http;//. Wikipedia. Org/wiki/ Metafisika

6. Internet, http:http//. Metafisika. Blogspot.com/

7. Internet, http:/ elisa. Ugm.ac.id/files/aushu/ssqQv Gse/ Metafisika. ppt.

8. Internet, http;// blogs. Unpad.ac.id/ mumuhmz/wp-uploads/metafisikal.ppt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar